Friday, 30 October 2015

Cerita dari Digul

Hi guys...

Woke, woke, pasti banyak yang nanya, kok buku lagi sih za?

Iya, gw emang sengaja nulis review beberapa buku soalnya gw merasa buku-buku ini penting buat di baca semua orang Indonesia. Kenapa? karna buku ini mengandung muatan sejarah bangsa kita, jadi gw share ke lo semua dengan harapan biar lo mau membaca buku ini.

Kali ini gw mau membahas buku berjudul 'Cerita dari Digul'. Sebelumnya yang belom tau Digul itu ada dimana, Digul itu ada di pedalaman Papua. Nah, pas jaman Belanda, orang-orang yang mempunyai jalan pikiran yang keras, yang bisa berbahaya bagi pemerintah Hindia Belanda, bakal 'dibuang' di Boven Digoel (Dugul Hulu). Tentunya mereka kebanyakan adalah kaum-kaum terpelajar yang ngerti bahasa Belanda, dan tau bagaimana cara menggunakan bahasa Belanda untuk menggalang kekuatan.

Nah, di Digul inilah, para Digulis (sebutan untuk mereka) hidup sebagai orang yang diasingkan sampai mereka diperbolehkan pulang oleh pemerintah Hindia Belanda. Disana, ada dari beberapa Digulis yang akhirnya membuat karya yang pada akhirnya di susun oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai kumpulan cerita, yang dianggap sebagai pengalaman para Digulis.

Buku ini mempunyai 5 cerita yang menarik yang disusun dalam satu buku. Tujuan penyusunan cerita ini adalah untuk mengungkap sisi kehidupan para buangan yang berada di Digul. Diantaranya cerita berjudul: 'Rustam Digulist', 'Darah dan Air Mata di Boven Digul', 'Pandu Anak Buangan', ' Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul' dan 'Minggat dari Digul'.

Karya-karya tersebut yang dikumpulin dan di sunting sama Pramoedya, layak di catat sebagai dokumen sejarah sastra dan bahasa Indonesia. Karena, Pramoedya memberikan batasan bahwa hanya cerita yang menggunakan bahasa Melayu saja dan di tulis oleh orang Indonesia saja yang bisa masuk dalam buku ini. Sebenernya ada banyak banget tulisan tentang Digul, tapi karna kebanyakan berbahasa Belanda atau berbahasa Melayu tapi di tulis oleh orang Belanda, sehingga tidak di masukkan oleh Pramoedya.

Sebagai kumpulan cerita, buku ini nggak cuma nikmat buat di baca tapi juga memberi kita bahan renungan tentang makna kemerdekaan hidup sebagai manusia dan bangsa.     
Riza Alhusna
Riza Alhusna Updated at: 10/30/2015 02:30:00 pm
Blog Oonline
Riza Alhusna Updated at: 10/30/2015 02:30:00 pm
Riza Alhusna
Riza Alhusna Updated at: 10/30/2015 02:30:00 pm

2 comments:

Cieeehhhhh yang abis baca blog gue sambil ketawa-ketawa, kasih komentarnya dong sayy....